kapital

Jumat, 25 Maret 2016

DESIGN































ANGGOTA-ANGGOTA KAPITAL

ANGGOTA ANGGOTA KAPITAL





Ketua : M. Asif
Sekretaris        : Fahmi Ariyanto
Bendahara       : Zainuri
Anggota-anggota lain :
Ø  Aziz
Ø  I’im
Ø  Royan
Ø  Syarif
Ø  Yogi
Ø  Saiful
Ø  Faris
Ø  Noval
Ø  Arul
Ø  Amir
Ø  Aris
Ø  Ahmad
Ø  Levi
Ø  Faizal
Ø  Dwi
Ø  Mawan
Ø  Hendri
Ø  Tarom
Ø  Alil
Ø  Surya
Ø  Hendra
Ø  Rifa’i

GERAKAN PEMBUATAN LAPANGAN BULU TANGKIS



Jumat, 25 Maret 2016.
Anak-anak Kapital kambali melakukan gerakan pembuatan lapangan bulu tangkis di dukuh karang boyo. Setelah gerakan-gerakan yang diadakan oleh anak-anak Kapital minggu-minggu sebelumnya yang dilakukan akhirnya hampir selesai. Anak-anak kapital sangat antusias karena menjadikan di dukuh karang boyo terdapat lapangan bulu tangkis sehingga anak-anak dukuh karang boyo yang memiliki bakat dalam bulu tangkis dapat menyalurkan bakatnya.
Pembuatan lapangan tersebut menggunakan bambu sebagai tiang juga sebagai garis. Meskipun lapangan tersebut sangatlah sederhana, namun tidak dipungkiri bahwa lapangan tersebut akan menjadi lapangan yang sibuk. Sibuk dalam artian selalu ada yang bermain disana. Lapangan tersebut nantinya tidak hanya untuk bermain bulu tangkis karena ukurannya disesuaikan untuk lapangan bola takraw.
Dan juga ucapan terimakasih kapada Bapak H. Darussalam karena telah mau meminjamkan tanahnya untuk pembuatan lapangan bulu tangkis. Meskipun lapangan tersebut hanya bisa digunakan selama beberapa tahun saja karena Bapak H. Darussalam akan membuat rumah ditanahnya beberapa tahun kedepan.
Kemungkinan besar lapangan tersebut akan selesai bulan depan. Dan semoga lapangan tersebut akan menjadi lapangan yang bermanfaat untuk warga karang boyo.

Senin, 21 Maret 2016

ASAL USUL DUKUH KARANG BOYO

Asal Usul Dukuh Karang Boyo
Pada zaman dahulu, ada sebuah dukuh yang bernama karang bolong yang terletak di Desa Kranggan. Nama “Karang” diambil dari kata Kranggan . Sedangkan kata Bolong sebab, di Dukuh tersebut terdapat sebuah gua yang terletak di bawah sebuah kebun yang mana kebun tersebut dikenal dengan keangkerannya yang menjadikan tidak ada seorangpun yang berani memasukinya.  Gua tersebut diberi nama Gua Kakang Gandhi karena, seseorang Kiai bernama Kakang Gandhi yang mempunyai kesaktian yang hebat berhasil memasuki Gua tersebut sampai menemukan tembusan Gua tersebut yang bertembusan dengan Gua Pakis. Maka dari itu, Gua tersebut diberi nama Kakang Gandhi. Dengan adanya gua tersebut menjadikan dukuh tersebut terdapat lubang di bawah dukuh tersebut. Kata bolong berasal dari bahasa jawa yang berarti berlubang. Maka jadilah Dukuh Karang Bolong.
Setelah Kiai Kakang Gandhi berhasil memasuki gua tersebut beliau berkelana mengajar ilmu agama kepada orang-orang yang masih kurang mengetahui tentang ilmu agama. Setelah Kiai Kakang Gandhi meninggalkan dukuh tersebut, Munculah seekor buaya siluman yang ingin membalas dendam karena ada yang berani memasuki Guanya. Buaya tersebut sering memakan warga-warga ketika mereka sedang berjalan sendirian malam-malam. Wargapun resah dan mereka bermusyawarah bagaimana cara agar buaya tersebut tidak memakan korban jiwa lagi. Salah satu warga menawarkan diri untuk mencari Kiai Kakang Gandhi dan warga lainpun menyutujuinya. Akhirnya warga tersebut berhasil menemukan Kiai Kakang Gandhi. Setelah mendengar berita tersebut Kiai Kakang Gandhi memutuskan untuk kembali ke dukuh karang bolong dan bertarung dengan buaya yang sering memakan warga tersebut. Pertarungan sengitpun terjadi dan Kiai Kakang Gandhi memenangkan pertarungan tersebut dan buaya silumanpun meninggal.
Akhirnya Kiai Kakang Gandhi mengubur buaya siluman tersebut di Gua Kakang Gandhi dan menutup gua tersebut dengan kesaktiannya. Kemudian Kiai Kakang Gandhi melanjutkan kembali perjalanannya. Akhirnya dukuh yang bernama Karang Bolong berganti nama menjadi Dukuh Karang Boyo. Seiring berkembangnya zaman dukuh karang boyo memisahkan diri dari  desa kranggan dan ikut dengan desa tanjung sari karena letaknya yang lebih dekat dengan desa tanjung sari dari pada desa kranggan. Dan sampai sekarang masih menggunakan nama dukuh “Karang Boyo”.